Sejarah ISOTIA

Isotia logo   Perjalanan dimulai…

Maret 1999, Peer Holm Jorgensen, setelah menyelesaikan tugasnya sebagai presiden dari sebuah perusahaan industri Prancis, memutuskan untuk meninggalkan dunia bisnis pada usia 53 tahun. Sejak tahun 1980, ia bekerja sebagai manajer dan penasihat bisnis di Denmark dan Eropa.

Berdasarkan pengalamannya dengan standard pekerja Prancis, ia memutuskan untuk menulis buku tentang empat tahun kehidupannya di Prancis. Pada tahun 2000, Back-log (Aschehoug, Copenhagen) diterbitkan.

Pada tahun 2006, Peer kembali ke Denmark dan mendirikan penerbitan sendiri, ISOTIA, untuk menerbitkan buku-buku yang ditulis oleh para penulis berikutnya. Awal tahun 2007, muncul penulis pertama dari Kenya, Jackline Alaka Buluma.

  Isotia logo  Kisah di balik nama

ISOTIA adalah singkatan dari kalimat dalam bahasa Denmark: “I Solen Over Tagene I Antibes”. Dalam bahasa Inggris artinya: “In the Sun Over the Roof of Antibes”. Dalam bahasa Indonesia menjadi “Di Bawah Sinar Matahari, Atap di Antibes”.

Nama ini merupakan penghormatan kepada seorang wanita yang sangat luar biasa. Peer secara tidak sengaja bertemu dengannya pada bulan Mei 1996, ketika wanita itu berusia 80-an. Peer mengunjungi seorang temannya di Antibes, Prancis Selatan. Temannya menunjuk ke atap sebuah rumah dan berkata, “Wanita tua itu siap untuk menjual rumahnya.”

isotia view 2Tampaknya, teman Peer benar. Wanita tua itu telah siap menjual rumahnya. Namun, agar dapat membelinya, wanita itu mengajukan syarat Peer harus mengunjunginya di rumahnya di Denmark untuk mendengarkan kisahnya.

Pemandangan dari tempat dimana ISOTIA dilahirkan. Antibes, Prancis Selatan.

Tampaknya, teman Peer benar. Wanita tua itu telah siap menjual rumahnya. Namun, agar dapat membelinya, wanita itu mengajukan syarat Peer harus mengunjunginya di rumahnya di Denmark untuk mendengarkan kisahnya.

Ketika Peer bertemu dan makan siang dengan wanita itu di rumah pertanian berbentuk U khas Denmark miliknya, wanita itu mengatakan: “Saya menikah dengan seorang pria yang sangat baik dan murah hati. Namun, ia adalah seorang anggota komunitas Nazi. Akan tetapi, selama Perang Dunia II, saya diam-diam menjadi anggota gerakan perlawanan yang mengadakan pertemuan di loteng, sementara dia bertemu dengan teman-teman Nazi-nya di ruangan ini. Karena itu, saya harus menceraikannya. Ia benar-benar seorang pria yang sangat baik. Tetapi, Anda harus memahami, kami tidak dapat bertahan dengan kondisi seperti ini.”

Wanita itu melarikan diri ke negara tetangga yang netral, Swedia, sampai perang berakhir. Di sana, ia dan anak-anaknya bertahan hidup dengan mengumpulkan koran-koran bekas untuk didaur ulang hingga mereka dapat kembali ke Denmark dengan aman. Ia lalu mendirikan perusahaan daur ulang yang masih bertahan hingga saat ini.

Ketika ia meletakkan sebuah botol selai di atas meja dan bertanya apakah Peer dapat menebak apa isinya, jelas sekali tergambar bahwa ia adalah seorang wanita yang luar biasa. Isinya tak lain adalah emas murni. Pada tahun 70-an dan awal 80-an, ia mencari nafkah dengan mengumpulkan keyboard bekas untuk diambil emasnya. Pada masa itu, koneksi di bawah keyboard terbuat dari emas.

Karena ia biasa menyebut apartemennya di Antibes sebagai “sebuah titik kecil di matahari”, dan setelah mendengar ceritanya, apakah ada yang lebih baik dari menciptakan nama ISOTIA sebagai penghargaan untuknya?

 Isotia logo   ISOTIA 2008 hingga sekarang

Ketika ISOTIA hendak menerbitkan novel kedua pada tahun 2007, pasar buku Denmark berubah secara dramatis, dari yang terorganisasi dengan baik sejak tahun 1850-an menjadi pasar yang ‘liar’, tidak terorganisir sama sekali. Toko buku, seperti yang kita tahu, tutup satu per satu dan yang masih bertahan menjadi enggan untuk menerbitkan buku para penulis baru.

Peer memutuskan untuk mengubah seluruh fokus dengan mendukung para penulis baru dan mendirikan Isotia Writing Concept. Pada saat yang sama, Magne Hovden, seorang Ancoral Literary Agency, bertanya apakah Peer tertarik untuk menerbitkan beberapa karyanya di Denmark. Peer menolak. Namun, Magne mengambil salah satu buku Peer, The Forgotten Massacre, dan mencoba menjual hak penerbitannya ke luar negeri. Pada tahun 2009, buku tersebut diterbitkan dalam Bahasa Indonesia.

Saat ini, fokus ISOTIA adalah mendukung penuh para penulis yang sejalan dengan filosofi, konsep, dan misi kami.

Di masa depan, dimulai dengan The Missing History, dan diikuti dengan The Kenyan Pilgrim – buku pertama, dan judul-judul berikutnya, semua buku mengungkap kisah-kisah nyata. Tujuannya adalah agar masa depan didasarkan pada masa lalu melalui tindakan-tindakan pada masa kini.

Misi kami adalah mengungkapkan kisah nyata yang diceritakan kepada rakyat oleh rakyat.

  Isotia logo  Logo

Logo ISOTIA berupa sekuntum bunga. Diciptakan pada tahun 1980 oleh Peer dan disempurnakan oleh Fredrich Joost.

 logo med tekst 150