Running for America

Dirilis pada tahun 2006, novel dengan tokoh seorang protagonis berkulit berwarna berusia 42 tahun ini muncul pada saat yang tepat, menjelang pemilihan presiden pada tahun 2008, dengan prediksi yang tepat tentang pengembangan kampanye dan hasilnya.

Jauh sebelum kampanye untuk pemilihan presiden pada tahun 2008 diluncurkan dan sebelum kandidat menyatakan partisipasi mereka dalam lomba untuk memenangkan Gedung Putih, penulis meramalkan bahwa presiden terpilih memiliki kulit berwarna, lahir dari orangtua Afro-American dan kulit putih.

maagudbevareamerikaNovel yang terbit satu tahun sebelum proses pemilihan presiden ini menyajikan pemandangan terkenal dari sekelompok kecil orang kulit putih kaya dan seorang wanita kulit putih single sebagai tokoh protagonis dalam kompetisi untuk memenangkan tiket ke Gedung Putih. Seperti biasa sejumlah kandidat lainnya, sudah menunggu giliran mereka.

Pertanyaannya adalah apakah salah satu kandidat akan mampu membawa kembali Amerika Serikat menjadi negara yang baik atau… ?

Sampai sekarang, buku ini hanya diterbitkan di Denmark, karena tidak ada agen penulis atau penerbit di luar negeri yang percaya bahwa prediksi di dalam buku ini akan menjadi nyata.

Hak penerbitan masih tersedia

Kisah: USA dengan wajah baru
AS menuju pemilihan presiden berikutnya. Dengan presiden dari Partai Republik yang ingin terpilih kembali dan seorang penantang dari Partai Demokrat, panggung pemilihan menjadi kompetisi yang biasa terjadi di antara para pria kulit putih untuk memenangkan Gedung Putih….

… Sampai seorang tua berkulit hitam menentang rencana dari sebuah kelompok untuk membangun science city di daerah yang telah ditinggali oleh sekelompok masyarakat yang menerapkan aturan mereka sendiri selama lebih dari 75 tahun.

Mereka mencalonkan seorang wanita blasteran berusia 42 tahun ke panggung pemilihan dan pertarungan menuju Gedung Putih berubah menjadi mengejutkan. Dengan perpaduan antara fakta historis dan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi –ditambah beberapa fiksi- pembaca dibawa jauh ke dalam mekanisme yang membuat pemerintah dan rakyat Amerika Serikat bertindak seperti yang mereka lakukan.

Kebenaran, yang berbeda dari anggapan umum, dibuka dan menjadi terang-benderang.

Titik Awal: Seorang Wanita di Kereta Bawah Tanah di New York
Penulis meninggalkan Denmark pada tahun 1962 saat berumur 16 tahun dan melakukan perjalanan panjang untuk mendapatkan pengalaman di dunia ini. Pada sebuah malam di musim gugur 1963 di New York, saat berumur 17 tahun, ia duduk di dalam kereta bawah tanah, dari Times Square menuju Brooklyn. Di stasiun Canal Street, seorang perempuan tua yang terlihat sangat lelah, masuk ke dalam kereta membawa dua tas yang berat.

Penulis berdiri dan memberikan kursinya untuk perempuan tua berkulit hitam itu. Perempuan itu berdiri dengan wajah ketakutan, tetapi juga berterima kasih.

Seorang berkulit putih, dan juga mata para penumpang berkulit hitam mengatakan: Jangan lakukan!…. kepada mereka berdua.

Inilah yang menjadi titik awal novel ini.

Latar Belakang: Tuhan Memiliki Negara?
Dalam pembukaan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat yang ditulis oleh Thomas Jefferson menyebutkan: “… bahwa semua manusia diciptakan setara, bahwa mereka dihadiahi oleh Pencipta mereka dengan hak-hak yang tidak daat dihilangkan, bahwa hak-hak itu antara lain adalah kehidupan, kebebasan, dan mengejar kebahagiaan.” Ini ditulis pada tanggal 4 Juli 1776.

Dua ratus dua puluh lima tahun kemudian, proyek ini tidak berhasil. Pada tahun 2001, Amerika Serikat kehilangan kursi di Dewan HAM PBB!

Sejak saat itu, Amerika Serikat menyatakan perang pada terorisme sebagai Perang Dunia III dan menetapkan bahwa kekuatan militer negara akan melawan selutuh kejahatan di dunia – di mana saja. Kapan saja. Namun musuh yang tak terlihat masih berada di luar sana.

Sementara itu, terjadi ledakan pertumbuhan kemiskinan di Amerika Serikat: Setiap hari, 25 juta warganegara tergantung pada makanan yang dibagikan oleh lembaga amal.

Semakin banyak orang yang bertanya pada diri sendiri: Apakah benar Tuhan memiliki negara?

“Saya tidak mengkritisi orang Amerika. Saya hanya mengatakan siapa mereka sebenarnya,” kata Peer Holm Jorgensen.

logo med tekst 150