The Forgotten Massacre

Inilah novel tentang hal-hal yang bisa dilakukan manusia pada manusia lain walaupun mereka tidak menginginkannya, ketika pada tahun 1965, negara superpower memainkan Russian roulette terhadap Indonesia dan rakyatnya.

Free chapter available: view/hide

forgotten frontThe Forgotten Massacre adalah pengalaman pribadi tentang mimpi-mimpi, persahabatan, cinta, kasih sayang dan cemburu, hubungan batin yang kuat, tentang kenaifan, malaikat pelindung, dan keyakinan untuk melakukan hal yang tidak mungkin.

Inilah novel yang berhubungan dengan masa kini. Apakah masa kini berbeda dari masa lalu?

Peristiwa ini terjadi sebagai hasil dari kegiatan-kegiatan CIA dan lima anak muda yang mencoba untuk saling menyelamatkan dalam pembunuhan tersebut.

Kisah: Dalam Bayang-Bayang Surga
Pada musim panas 1965, situasi memanas di Indonesia. Pada hari-hari setelah tanggal 30 September, sebuah gerakan, yang mencegah sekelompok jenderal untuk mengambil alih kekuasaan, telah berkembang menjadi perang sipil tak kenal ampun antara komunis, Muslim, dan tentara.

Di dalam perang besar ini, lima pria dan wanita muda, usia antara remaja dan orang dewasa, tercabut dari rencana dan mimpi-mimpi masa depan mereka.

Meskipun mereka memiliki latar belakang etnis, budaya, politik, moralitas, dan agama yang berbeda, lima anak muda ini bergantung satu sama lain untuk bertahan hidup dalam pembunuhan massal ini.

Tetapi, dapatkah mereka memercayai satu sama lain di dalam perang sipil di mana tetangga baik dan teman lama bersedia memberikan informasi melawan mereka, dan bahkan berpartisipasi di dalam pembunuhan ini?

Dengan harapan dapat bertahan hidup!

Titik Awal: Kebenaran Tidak untuk Diceritakan
Ketika penulis berumur 19 tahun, tanpa sengaja terlibat di dalam kejadian yang disebut para ahli sejarah dengan “Pembunuhan Massal yang Dilupakan” (The Forgotten Massacre). Ia tidak menyangka bahwa Amerika Serikat memiliki kontribusi pada pembunuhan massal ini… sampai bertahun-tahun setelahnya, yaitu pada tahun 1990-an, saat ia membaca informasi ini:

“Mungkin tangan saya berlumuran darah. Tetapi tidak seburuk itu!”
– Robert Martens, pegawai Kedutaan Besar Amerika di Indonesia pada tahun 1965

Pernyataan ini diterbitkan di dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Kathy Kadane di dalam the New York Times. Artikel ini juga memuat penyangkalan tentang keterlibatan pemerintah Amerika Serikat. “Robert Martens melakukannya dengan inisiatif sendiri, tanpa meminta ijin dari siapa pun”, begitulah pernyataan dari pemerintah Amerika Serikat.

“… mungkin. Saya tidak ingat. Mungkin kami melakukannya. Saya sudah lupa.”
– William Colby, direktur CIA, Divisi Timur Jauh pada tahun 1960-aan

Kebenaran yang disembunyikan adalah titik awal dari novel ini.

Latar Belakang: Seorang Pembebas yang Gagal
Presiden Sukarno, pahlawan kebebasan dari penjajahan Belanda, telah kehilangan pengaruhnya dalam koalisi Nasakom (Nasional, Agama, Komunis), tiga kekuatan yang ia gunakan untuk mempertahankan kekuasaannya.

Hal ini membawa Indonesia dalam suatu kudeta dan kudeta balasan. Enam jenderal dibunuh dalam waktu beberapa jam. Tanpa berpartisipasi di dalamnya, Partai Komunis Indonesia dituduh sebagai pelaku kudeta.

Tentara merespon dengan membantai kaum komunis beserta para pengikutnya.

Amerika Serikat menyambut pembalasan ini. Tidak ada yang tahu bahwa CIA berada di belakang kerusuhan ini dan salah seorang pegawai di Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta memberikan daftar nama anggota Partai Komunis Indonesia dan para simpatisannya kepada Tentara Nasional Indonesia, sampai ke tingkat desa.

Segera saja, Jawa dihiasi dengan kepala-kepala yang terpenggal.

Bagi Amerika Serikat, kejadian ini tidak semata-mata penyerangan terhadap komunisme. Ini juga penyerangan terbesar kedua pada dunia Muslim.

Diterbitkan dalam
Bahasa Denmark, Oktober 2007
Bahasa Indonesia, Juni 2009
Bahasa Inggris, dalam bentuk Amazon kindle e-book, Februari 2012
Masih terbuka kemungkinan untuk penerbitan di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Silakan mengirimkan email ke rights@isotia.com.

Ulasan (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia)

Nordjyske – Marianne Cornett
07.01.2008 … gaya bercerita yang mendebarkan dan memesona … Dalam “The Forgotten Massacre” Peer Holm Jørgensen telah menghasilkan novel menegangkan yang sangat bagus, sulit untuk meletakkan buku ini sebelum membuka lembaran terakhirnya.

Politiken – Bo Tao Michaëlis
05.01.2008 … dokumen yang mengerikan … tetapi juga sensitif sebagai sebuah novel tentang perkembangan seorang pria muda…

JyskeVestkysten – Steen Rasmussen
23.12.2007 … “´The Forgotten Massacre” karya cerdas Peer Holm Jorgensen – menarik, ditulis dengan baik, dan menawan …”

 

jessie t

logo med tekst 150