The Missing History – rencana untuk menggulingkan Presiden Suharto

“The Missing History” merupakan kisah nyata tentang sekelompok kecil jenderal, diplomat, mahasiswa, dan lain-lain yang membuat rencana untuk menggulingkan Presiden Suharto pada awal tahun 1970-an.

Free chapter available: view/hide

1 TMH front cover  publishedSejarah sebuah negara didasarkan pada kebenaran dari beberapa peristiwa. Beberapa sejarah negara didasarkan pada beberapa kebenaran tentang peristiwa yang sama.

Pada tahun 1945, Dewa Soeradjana yang berusia tujuh tahun, keluarga, dan penduduk desa lainnya, setelah melarikan diri ke dalam hutan di Bali, melihat bagaimana KNIL, Tentara Kerajaan Hindia Belanda, dan orang Indonesia yang menjadi kaki-tangan mereka, membakar semua rumah, menghancurkan ladang, dan membunuh ternak, tak ada yang tersisa sedikit pun.

Kehidupan Dewa Soeradjana yang luar biasa mencapai puncaknya, ketika pada tahun 1972, saat berusia 34 tahun, ia terlibat dalam rencana untuk menggulingkan Presiden Suharto tanpa mengetahui apa alasannya.

* * * * *

Pada awal tahun 1974, Presiden Suharto menerima sebuah dokumen dari Jenderal Ali Murtopo, kepala OPSUS, sebuah lembaga ekstra-konstitusional yang memiliki kekuasaan yang luas dan sulit dijelaskan. Dokumen tersebut memberi petunjuk tentang seorang jenderal berinisial S yang akan melakukan kudeta antara bulan April dan Juni 1974.

Jenderal berinisial S tersebut adalah Jenderal Soemitro, seorang tentara yang terkenal dan menjadi komandan KOPKAMTIB, Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, orang paling berkuasa kedua di Indonesia setelah Presiden Suharto sendiri.

Namun, apakah mungkin dokumen tersebut, yang dikenal sebagai dokumen Ramadi, mengacu pada suatu peristiwa, yang terjadi pada bulan Juni 1972, dua tahun sebelum munculnya dokumen tersebut?

Namun, jika kudeta sudah direncanakan sejak tahun 1972, bagaimana mungkin para pesertanya seperti para jenderal, diplomat, dan pegawai negeri dengan jabatan tinggi tetap bekerja untuk Presiden Suharto dan regimnya, dan bahkan beberapa di antaranya dipromosikan untuk menempati posisi yang lebih tinggi setelah pristiwa itu?

* * * * *

djani and SoepardjoBerdasarkan pengalaman pribadi Dewa Soeradjana, buku ini memberikan wawasan berharga dalam sejarah Indonesia yang sebenarnya dari tahun 1938 – 1972.

Kisah ini juga menjadi contoh yang bagus sekali bagaimana kemauan seseorang untuk melakukan sesuatu menciptakan berbagai kemungkinan.
’
Foto: Jendral Soepardjo dan Pak Dewa  Maret 1972.

* * * * *

“The Missing History” ”ditulis oleh Peer Holm Jørgensen, penulis ““The Forgotten Massacre”” (Mizan 2009). Karena ia percaya bahwa sejarah menentukan masa depan, buku ini juga memberikan wawasan-wawasan sejarah yang tak ternilai bagi generasi muda Indonesia saat ini dan yang akan datang.

Buku ini juga memberikan standard baru tentang kesadaran publik, ketika berhadapan dengan kekuatan yang berkuasa.

 logo small   Hak penerbitan masih tersedia. Silakan hubungi kami di rights@isotia.com

flap1Dewa Soeradjana dan Peer Holm Jorgensen bertemu pertama kali pada bulan Desember 2011 untuk merancang alur cerita “The Missing History”. Mereka bertemu di Bled, Slovenia.

Karya ini diterbitkan di Indonesia pada Juli 2015 oleh Noura Books (Mizan), Jakarta.

* * *

“The Missing History” diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Gusti Nyoman Ayu Sukerti.

logo med tekst 150